Ingin Kembali Fitrah || Cerpen

Hari itu masih dengan aktivitas seperti biasa. Aku mulai membuka konter penjualan pulsa, usaha yang kugeluti enam bulan terakhir setelah pulang dari tanah rantau, Batam. Hampir sepuluh tahun merantau aku tidak melihat perubahan yang berarti ditanah kelahiranku.

Pukul menunjukan 12:00 siang aku bergegas menutup konterku, karena harus kepasar membeli pesanan ibu untuk santapan siang kami sekeluarga, maklum aku belum memiliki kariawan untuk menjaga konter. Sesampainya di pasar aku di sampbut dengan becek dan bisingnya ala pasar tradisional.

“Rudi...Rudi,” terdengar orang memanggil namaku. Pria beradan tegap mengenakan peci dan celana cingkrang dengan jenggot yang cukup panjang menghapiriku.
“Rudi apa kabar? ,“ pria itu bertanya
“Baik, Maaf siapa ya?,” bingung, aku bertanya lagi
Pria itu tersenyum sembari menjawab “ Ini aku Rudi... Abe, temanmu” 

Terbelanga aku melihat teman jaman SMA dulu. pria yang terkenal dengan kejahatan yang luar biasa, sepengetahuanku seluru kejahatan telah di lakukannya, kini telah berpenampilan islami yang aku sendiri sulit untuk mengenalinya.

Kami mulai larut dalam cerita masa-masa paling indah itu, membahas prilaku jahil kami, dan menanyakan kabar beberapa teman teman padanya, beberapa ada yang sudah menikah dan bahkan sudah punya anak tiga.

Tak sadar sudah hampir dua jam aku dipasar, bergegas aku kembali pulang kerumah dan pasti orang rumah murka kepadaku karena makan siangnya tertunda.
Beberapa hari berlalu Abe datang mampir di konterku,
“Assalamulaikum”
“Waalaikumusalam” jawabku
“Wess Abe... dari mana kamu? “ tanyaku
“Dari rumah saudara lorong sebelah,.. Ada acara kamu lusa selesai isha?” Tanya Abe
“Tidak ada” sahutku
“Begini saudaraku, aku mau ajak kau kepengajian, kebetulan lusa malam itu yang membawakan tausiah ustad Hafis” Ajak Abe
“ Ok lah tapi kamu jemput aku yaa”
“Ok Sip” Jawabnya..

Jujur selama merantau di Batam aku tidak pernah pergi ke masjid lagi. Seingatku mungkin jaman SMA aku terakhir masuk masjid. Terbiasa di hidup di kota Batam yang terkenal dengan dunia malamnya membuat raga dan hatiku terbiasa dengan pesta. Minuman keras bahkan narkoba pernah kucicipi,  hanya potret ibu yang sedikit mampu membuatku agar tak terlalu jatuh dalam jurang iblis itu.

Tibalah pada hari H pengajian yang beberapa hari ini selalu kufikirkan bukan apa apa, tapi perasaan ingin menolak namun lebih besar perasaanku untuk tidak menolak ajakkan sahabat.
 “Assalamualikum”
“Waalaikumsalam” Ibu menjawab salam Abe
“Rudi... ini sahabatmu datang” panggil ibu
“Leeess Gooo”
“Bu aku mohon izin hadiri pengajian di masjid sama Abe”
“Ya hati hati di jalan” Pinta Ibu

Terlihat jelas mata ibu berkaca kaca ketika mengizinkan aku mengikuti pengajian, seolah mengisyaratkan doanya selama ini telah di kabulkan oleh Tuhan. Bagaimana tidak, beliau telah mendengar kabar dari saudara sekampung yang ikut merantau bersamaku kalau hidupku ditanah rantau jauh dari agama, namun ibu tak pernah menanyakan itu secara langsung padaku, mungkin itu alasan terbesarnya  menyuruhku agar lekas pulang kampung.

Selepas dari pengajian mendengar tausyah ustadz hatiku mulai bergetar, dan pokok bahasan pak ustadz yang paling aku ingat adalah Tuhan tidak akan pernah lelah mengampuni dosa hambanya justru hamba-Nya yang lelah untuk bertobat.


Kembali Fitrah
Oleh: Pujanggabajingan

Bergetar dalam hati mendengan panggilan-Nya
Namun raga sulit untuk melangkah
Tertegun dalam hati mendengar lafas-Nya
Namun jiwa sulit untuk kembali fitrah

Dengan segala dosa 
Berlumur dalam tubuh
Bangkitkan segala asa
Untuk kembali fitrah

Tamat

Puisi Terkait

Belum ada tanggapan untuk "Ingin Kembali Fitrah || Cerpen"

Posting Komentar