Tiga Puisi Tentang Pahit Getirnya kehidupan karya Goenawan Muhamad

Tiga Puisi Tentang Pahit Getirnya kehidupan karya Goenawan Muhamad !!! Hallo sahabat puisi, apa kabar ? semoga sehat selalu aminnn... kamu sedang mencari referensi puisi bertema tentang kehidupan atau puisi yang menggambarkan tentang pahit getirnya kehidupan ?, jika iya, maka mimin tidak ragu merekondasikan kamu puisi karya Goenawan Muhamad.

Siapa sih Goenawan Muhamad ? Nama lengkapnya Goenawan Soesatyo Mohamad biasa juga di sapa pak GM. Bagi kamu yang suka membaca majalah tempo pasti tidak asing dengan beliau. Yaa beliau dan kawan kawannya  mendirikan majalah tempo pada tahun 1971 dan beliau  langsung didapuk sebagai pemimpin redaksi majalah tempo yang kala itu usianya baru menginjak 30 tahun.

Pria kelahiran Batang 24 Juli 1941 itu terkenal dengan pemikirannya yang liberal dan terbuka. Hal tersebut dapat kita rasakan bila menikmati karya-karyanya. Bilau dikenal sebagai wartawan, budayawan, dan sastrawan dengan karya yang berupa buku maupun puisi yang mengagumkan. Salah satu karya beliau yang paling terkenal adalah seri catatan pinggir atau Caping, merupakan rubrik di majalah Tempo  yang terbit setiap minggu, yang kini telah di bukukan.

Baca Juga :

Nahh pada kesempatan kali ini mimin akan bagikan kamu semua tiga puisi tentang pahit getirnya kehidupan karya beliau. Jadi tidak usah banyak cincong langsung saja ketekape...

Puisi Kehidupan Penuh Makna Karya Goenawan Muhamad


Dingin tak tercatat

Dingin tak tercatat
Pada termometer
Kota hanya basah
Angin sepanjang sungai
Mengusir, tapi kita tetap saja
Disana. Seakan akan
Gerimis raib
Dan cahaya terbang
Mempermainkan warna
Tuhan, kenapa kita bisa bahagia ?

Asmaranda

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun,  Karena angin pada kemuning.
Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakka bima sakti, yang jauh. Tapi diantara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya di sebutkan.

Lalu ia tahu wanita itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi
Pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara,
Ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani lagi.

Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu.
Bulan pun lamban lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kau lupakah wajahku, kulupakan wajahmu.

Diantara Kanal

Jarimu menandai sebuah percakapan 
Yang tak hendak kita rekam 
di hitam sotong dan gelas sauvognon blanc Yang akan ditinggalkan 
Dikira kita kanal penyusup dari laut. 
Di jalan para kelasi malam seakan biru 
" meskipun esok Lazuardi", katamu 
Aku dengar, kita kenal kegaduhan di aspal ini. 
Kita tahu banyak hal. 
Kita tahu apa yang sebentar. 
Seseorang pernah mengatakan 
Kita telah disandingkan 
Sejak penghuni pertama ghetto yahudi membangun kedai. 
Tapi kau tahu aku akan melepasmu di sudut itu, 
Gimana 
Tiap malam selesai dan aku tahu kau akan pergi. 
“Kota ini”, katamu, “ adalah jam yang digantikan matahari.”

Bagaimana puisinya, pasti butuh usaha khusus untuk memaknainya. Yaa namanya juga puisi setiap orang pasti punya penafsiran sendiri-sendiri tergantung dari tingkat pengetahuan masing masing. Jadi itulah tiga puisi tentang pahit getirnya kehidupan karya Goenawan Muhamad tentunya ini versi mimin yaa. Sampai jumpa lagi di artikel berikutnya ok...

0 Response to "Tiga Puisi Tentang Pahit Getirnya kehidupan karya Goenawan Muhamad"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel