Tiga Puisi Karya Joko Pinurbo Yang Menyentuh Absurditas Sehari-Hari

Tiga Puisi Karya Joko Pinurbo Yang Menyentuh Absurditas Sehari-Hari !!! Hallo sahabat puisi, apa kabar ? semoga sehat selalu aminn... Jika kamu lagi cari referensi puisi perpaduan narasi, humor dan ironi yang lekat dengan kehidupan sehari-hari maka puisi karya Joko Punirbo yang memenuhi unsur-unsur tersebut.

Siapa sih Joko Punirbo ?, nama lengkapnya Joko Punirbo, biasa di sapa Jokpin. Beliau merupakan penyair terkemuka negri ini, dengan karya puisi yang mengandung citraan mengacu pada suatu peristiwa dan objek sehari hari dengan bahasa biasa namun tajam.

Pria kelahiran Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat pada 11 Maret 1962, telah menulis puisi puluhan bahkan ratusan semenjak usianya berkepala tiga. Tapi sayang puisi puisi itu di bakarnya begitu saja karena beliau kurang percaya diri dengan karyanya sendiri.

Puisi Karya beliau memiliki ciri khas sendiri di banding dengan para penyair terkemuka Indonesia lainnya. Beliau sangat pandai mempermainkan dan mendayagunakan kata dalam bahasa Indonesia, sehingga banyak karya beliau hanya bisa dinikmati dalam bahasa Indonesia saja.

Karya karya memukau beliau antara lain: Celana (1999), Dibawah Kibaran Sarung (2001), Pacar Kecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kasihku (2004), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), Celana Pacar Kecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007), Tahilalat (2012), Haduh Aku di Follow (2003). Baju Bulan (2013), Bulu Matamu (2014), Surat Kopi (2014), Surat Dari Yogya (2015), Selamat menunaikan Ibadah Puisi (2016), Malam ini Aku Akan Tidur Dimatamu (2016), Buku Latihan Tidur (2016), dan Srimenanti (2019).

Baca Juga :

Nah itulah sedikit ulasan tentang profil beliau, berikut tiga puisi karya beliau yang menyentuh absurditas sehari-hari, yang mimin kumpulkan dari berbagai sumber, selamat menikmati...

Puisi Karya Joko Pinurbo Yang Menyentuh Absurditas Sehari-Hari

Kamus Kecil

Saya di besarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu
Walau kadang rumit dan membingungkan
Ia mengajari saya cara mengarang ilmu
Sehingga saya tahu 
Bahwa sumber segala kisah adalah kasih
Bahwa ingin berawal dari angan
Bahwa ibu tak pernah kehilangan iba
Bahwa segala yang baik akan berbiak
Bahwa orang ramah tidak akan mudah marah
Bahwa untuk menjadi gagah kau harus menjadi gigih
Bahwa seorang bintang harus tahan banting
Bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang kepada Tuhan
Bahwa pemurung tidak pernah merasa gembira
Sedangkan pemulung tidak pernah merasa gembila
Bahwa orang putus asa suka memanggil asu
Bahwa lidah memang pandai berdalih
Bahwa kelewat paham bisa berakibat hampa
Bahwa amin yang terbuat dari iman menjadikan kau merasa aman

Bahasa Indonesiaku yang gundah
Membawaku kesebuah paragraf yang merindukan bau tubuhmu
Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk yang hangat
Dimana kau induk kalimat dan aku anak kalimat

Ketika induk kalimat bilang pulang
Anak kalimat paham
Bahwa pulang adalah masuk kedalam palung
Ruang penuh raung
Segala kenang tertidur di dalam kening

Ketika akhirnya matamu mati
Kita sudah menjadi kalimat tunggal
Yang ingin tinggal
Dan berharap tak ada yang bakal tanggal

Baju Bulan

Bulan, aku mau lebaran. Aku ingin baju baru,
Tapi tak punya uang, ibuku entah dimana sekarang,
Sadangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.
Bolekah, Bulan, kupinjam bajumu barang semalam ?
Bulan terharu : kok masih ada yang membutuhkan 
bajunya diantara begitu banyak 
warna warni baju buatan. Bulan mencopot bajunya 
yang keperakan, mengenakan pada gadis kecil
yang sering menangis di persimpangan jalan.
Bulan rela telanjang di langit, atap paling rindang
Bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang.

Mata Air

Di musim kemarau semua sumber air di desa itu mengering
Perempuan-perempuan legam berbondong-bondong menggendong gentong
Menuju sebuah sedang di bawah pohon beringin di celah perbukitan.
Tawa mereka yang renyah menggema nyaring di dinding-dinding tebing
Pecah di padang-padang gersang.

Setelah berjalan lima kilometer jauhnya, mereka pun sampai di mata air
Yang tak pernah mati itu. Mereka ramai-ramai menuai air membuncah buncah,
Menuai air mata yang mereka tanam di ladang-ladang karang.

Bulan sering turun ke sedang itu, menemani garis kecil
Yang suka mandi sendirian disitu. Langit sangat bahagia
Tapi belum ingin meneteskan air mata. Nanti, jika musim hujan tiba
Langit akan memandikan gadis kecil itu dengan air mata.

Bagaimana puisi karya beliau ? kren kan... semoga bisa menambah referensi sastra kalian. Tetap dukung dunia sastra tanah air dengan membeli karya original mereka. Samapai jumpa di artikel berikutnya...

0 Response to "Tiga Puisi Karya Joko Pinurbo Yang Menyentuh Absurditas Sehari-Hari"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel