Tiga Puisi Karya KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) Yang Menggetarkan Jiwa

Puisi Karya KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) Yang Menggetarkan Jiwa !!!Hallo sahabat puisi, apa kabar ? semoga sehat selalu, amiin. Nama beliau lebih di kenal sebagai seorang ulama dari pada seorang penyair, ya KH. Ahmad Mustofa Bisri atau biasa di sapa Gus Mus, merupakan seorang ulama karismatik Indoesia yang dikenal hebat merangkai kata menjadi puisi.

Puisi karya beliau terkenal sangat lugas, terselip nasehat-nasehat yang mampu menggetarkan jiwa pembacanya.

 Ulama sepuh yang sangat aktif di facebook dan twitter itu besar dan tubuh dalam lingkungan keluaga yang sangat religius. Kedalaman agama yang mempuni membuat beliau dengan mudah mempengaruhi pembaca untuk sepakat dengan pandangannya tentang agama Islam yang sering di tuangkan dalam karyanya.

Baca Juga :

Nah pada kesempatan kali ini mimin akan bagikan tiga puisi karya KH.Mustofa Bisri yang mampu menggetarkan jiwa. Selamat membaca...

Puisi Karya Gus Mus Yang Menggetarkan Jiwa



Kau Ini Bagaimana

Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir

Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau tuduh aku plin-plan

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana 
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaamu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusaknnya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana 
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana 
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bissawab

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tenggkukku

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh aku memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, kau bungkam aku kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana 
aku bilang terserah kau, kau tidak mau
aku bulang terserah kita, kau tak suka
aku bilang terserah aku, kau memakiku

kau ini bagaimana
atau aku harus bagaimana

Ibu

Ibu, kaulah gua teduh 
Tempatku bertapa bersamamu
Sekian lama
Kaulah kawah
Darimana aku meluncur dengan perkasa

Kaulah bumi
Yang tergelar lembut bagiku
Melepas lelah dan nestapa
Gunung yang menjaga mimpiku
Siang dan malam
Mata air yang tak berhenti mengalir 
Membasahi bahagiaku
Telaga tempatku bermain
Berenang dan menyelam
Kaulah, ibu, lau dan langit
Yang menjaga lurus horisonku
Kaulah, ibu, mentari dan rembulan
Yang mengawal perjalananku
Mecari jejak sorga
Di telapak kakiku

(Tuhan, 
Aku bersaksi
Ibuku telah melaksanakan amanat-Mu
Menyampaikan kasih sayang-Mu
Maka kasihilah ibuku
Seperti kau mengasihi 
Kekasih-kekasihMu
Amin)

Sajak Cinta

Cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya
Cinta romeo kepada juliet si majnun qais kepada lalila
Belum apa-apa
Temu pisah kita lebih bermakna
Dibandingkan temu pisah Yusuf dan Zulaikha
Rindu-dendam kita melebihi rindu-dendam Adam dan Hawa

Aku adalah ombak samuderamu
Yang lari datang bagimu
Hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu
Aku adalah wangi bungamu
Luka berdarah darah durimu
Semilir bagai badai anginmu

Aku adalah kicau burungmu
Kabut puncak gunungmu
Tuah tenungmu
Aku adalah titik-titik hurufmu
Kata-kata maknamu

Aku adalah sinar silau panasmu
Dan bayang-bayang hangat mentarimu
Bumi pasrah langitmu

Aku adalah jasad ruhmu
Fayakun kunmu

Aku adalah aku
Kau
Mu

 Itulah tiga puisi karya Gus Mus yang menggetarkan jiwa, versi mimin. Semoga artikel ini bermanfaat, sampai jumpa pada artikel puisi lainnya...

0 Response to "Tiga Puisi Karya KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) Yang Menggetarkan Jiwa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel