Tiga Puisi Karya Taufik Ismail Yang Mengaduk Perasaan

Tiga Puisi Karya Taufik Ismail Yang Mengaduk Perasaan !!! Hallo sahabat puisi, apa kabar ? semoga sehat selalu amiin... sebagai pecinta puisi, kamu sukanya puisi yang seperti apa. Apakah yang bisa mengaduk-aduk perasaanmu ketika membacanya, jika ia maka mimin sarankan kamu untuk mencoba membaca puisi salah satu sastrawan terkenal negeri ini Taufik Ismail.

Nama lengkapnya Taufik Ismail, lahir Bukittinggi, Sumatra Barat pada 25 Juni 1935. Beliau merupakan seorang sastrawan terkemuka Indonesia yang tergabung dalam angkatan 66.

Di besarkan dalam keluarga yang relijius sedikit banyak mempengaruhi karya-karyanya. Bapaknya K.H. Abdul Gaffar merupakan seorang ulama terkemuka Muhamadiyah.

Masa kecil beliau di habiskan di kota Solo dan Yogyakarta. Tercatat beliau menembuh pendidikan di sekolah rakyat di Solo, ditamatkan di sekolah rakyat  Muhammadiyah Ngupasan, Yogyakarta pada tahun 1948, kemudian melanjutkan pendidikannya di SMP 1 Bukittinggi, tamat pada 1952, dan ia menlanjutkan SMA di Bogor, namun tamat di SMA Negeri Pekalongan Tahun 1956.

Dimasa kuliah beliau aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan seperti Pelajar Islam Indoensia (PII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ketua Senat Mahasiswa FKHP-UI (1960-1961) dan WaKa Dewan Mahasiswa UI (1961 – 1962).

Taufik Ismail sering bekerja sama dengan para musisi seperti Bimbo, Chrisye, Yan Antono, dan Ucok Harahap. Beliau membantu menulis lirik lagu, hal ini beliau lakukan semata-mata agar jangkauan publik terhadap puisi akan lebih luas.

Baca Juga :

Nah itu sedikit biografi tentang beliau. Berikut tiga puisi karya Taufik Ismail yang bisa mengaduk perasaan. Selamat membaca...

Puisi Karya Taufik Ismail Yang Mengaduk Perasaan


Karangan Bunga

Tiga anak kecil,
Dalam langkah malu-malu
Datang ke salemba
Sore itu

Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang di tembak mati 
Siang tadi
Salemba

Alma mater, janganlah bersedih
Bila arakan ini bergerak perlahan
Menuju pemakaman 
Siang ini

Anakmu yang berani
Telah tersungkur kebumi
Ketika melawan tirani.

Kembalikan Indonesia Padaku

Hari depan Indoensia adalah dua ratus juta tahun menganga,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
Sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,
Yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
Dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa
Hari depan Indonesia adalah pulau jawa yang tenggelam
Karena seratus juta penduduknya

Kembalikan Indonesia padaku

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam
Dengan bola telur angsa dibawah sinar lampu 15 wat,
Hari depan Indonesia adalah pulau jawa yang pelan-pelan tenggelam
Lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang renang di atasnya
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
Dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat,
Sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang 
Sambil main pingpong di atas pulau jawa yang tenggelam
Dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat kedasar laut

Kembalikan Indonesia Padaku

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
Dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa
Hari depan Indonesia adalah pulau jawa yang tenggelam
Karena seratus juta penduduknya
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat
Sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian, 
Kembalikan indonesia padaku

Kita Adalah Pemilik Sah Republik ini

Tidak ada pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan parah pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
Duli Tuanku ?!

Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang ditepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan tersus

Itulah tiga puisi karya Taufik Ismail yang mengaduk perasaan, yang mimin pilih dari puluhan puisi beliau.  Semoga artikel ini bermanfaat, sampai jumpa pada artikel berikutnya. 

0 Response to "Tiga Puisi Karya Taufik Ismail Yang Mengaduk Perasaan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel