Tiga Puisi Karya W.S. Rendra Yang Menghantam Penguasa

Tiga Puisi Karya W.S. Rendra Yang Menghantam Penguasa !!! Hallo sahabat puisi, apa kabar ? semoga sehat selalu, amiin... W.S. Rendra, pasti tidak asing di telinga pecinta puisi. Beliau merupakan sastrawan terkemuka Indonesia dengan segudang karya.

Nama lengkapnya Wilibrordus Surendra Broto Rendra biasa di kenal dengan W.S. Rendra, penyair yang oleh Prof. A. Teeuw  mengelompokannya  tidak termasuk dalam angkatan atau kelompok seperti angkatan 45, angkatan 60-an, atau angkatan 70-an. Menurut Prof. A. Teeuw, W.S. Renda memiliki keunikan dan kepribadiannya sendiri.

Pria kelahiran Solo, Hindia Belanda pada 7 November 1935 itu tidak hanya piawai menulis puisi, namun juga mumpuni dalam menulis scenario drama, cerpen, dan esai sastra.

Penyair yang di juluki burung Merak karena aksinya di atas panggung ini mulai jatuh cinta terhadap sastra ketika SMP, bahkan ketika itu beliau sudah mementaskan drama pertamanya yang berjudul Kaki Palsu. Dramanya yang berjudul Orang-orang Ditikungan Jalan mendapat penghargaan dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta ketika beliau SMA. Mulai saat itulah beliau semakin bersemangat untuk terus berkarya.

Karya Puisi beliau yang memukau antara lain: Ballada Orang Orang Tercinta, Blues untuk Bonnie, Empat Kumpulan Sajak, Sajak-Sajak Sepatu Tua, Mencari Bapak, Perjalanan Bu Aminah, Nyanyian Orang Urakan, Pamphleten van een Dichter, Potret Pembangunan Dalam Puisi, Di Sebabkan Oleh Angin, Orang Orang Rangkas Bitung, Rendra : Ballads and Blues Poem, State of Emergency, Doa Untuk Anak Cucu.

Baca Juga :

Nah itu sepenggal tentang beliau, berikut tiga puisi karya W.S. Rendra yang menghantam penguasa, selamat membaca.

Puisi Karya W.S. Rendra Yang Menghantam Penguasa

Kecoa Pembangunan

Kecoa pembangunan
Salah dagang banyak hutang
Tata bukunya ditulis diawan
Tata ekonominya ilmu bintang
Kecoa... kecoa ke...co...a...

Dengan senjata monopoli
Menjadi pencuri
Kecoa...kecoa...ke...co...a...

Dilindungi kekuasaan
Merampok negeri ini
Kecoa...kecoa...ke...co...a

Ngimpi nglindur di sangka pertumbuhan
Hutang pribadi di anggap Hutang bangsa
Suara di bungkam agar dosa berkuasa
Kecoa...kecoa...ke...co...a

Stabilitas, stabilitas katanya
Marsinah terbunuh, patani di gusur, kenyataannya
Kecoa pembangunan
Kecoa bangsa dan negara
Lebih berbahaya ketimbang raja singa
Lebih berbahaya ketimbang pelacuran
Kabut gelap masa depan, 
Kemarau panjang bagi harapan 
Kecoa...kecoa...ke...co...a

Ngakunya konglomerat
Nyatanya macan kandang
Ngakunya bisa dagang,
Nyatanya banyak hutang
Kecoa...kecoa...ke..co..a

Paspornya empat,
Kata buku dua versi
Katanya pemerataan
Nyatanya monopoli
Kecoa...kecoa...ke..co..a

Orang-Orang Miskin

Orang-orang miskin dijalan
Yang ditinggal didalam selokan,
Yang kalah di dalam pergulatan,
Yang diledek oleh impian,
Jangan mereka di tinggalkan

Angin membawah baju mereka 
Rambut mereka melekat di bulan purnama
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
Mengandung buah jalan raya

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam bantin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan

Bila kamu remehkan mereka,
Di jalan kamu akan di buru bayangan
Tidurmu akan penuh igauan,
Dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka

Jangan kamu bilang negara ini kaya
Karena orang-orang berkembang di kota dan di desa
Jangan kamu bilang dirimu kaya
Bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu di usulkan
Agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti belanda
Dan tentara di jalan  jangan bebas memukul mahasiswa

Orang-orang miskin di jalan
Masuk kedalam tidur malammu
Perempuan perempuan bunga raya
Menyuapi putra putramu
Tangan-tangan kotor dari jalanan
Meraba raba kaca jendelamu
Mereka tak bisa kamu biarkan

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol
Mereka akan menjadi pertanyaan
Yang mencegat ideologimu
Gigi mereka yang kuning
Akan meringis di muka agamamu
Kuman kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
Akan hinggap di gorden presidenan
Dan buku programma gedung kesenian

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
Bagai udara panas yang selalu ada
Bagai gerimis yang selalu membayang
Orang-rang miskin mengangkat pisau-pisau
Tertuju ke dada kita,
Atau ke dada mereka sendiri,
O, kenangkanlah :
Orang-orang miskin
Juga berasal dari kemah ibrahim

Sajak Orang Kepanasan

Karena kami makan akar 
Dan terigu menumpuk di gudangmu
Karena kami hidup berhimpitan
Dan ruangmu berlebihan
Maka kami bukan sekutu
Karena kami kucel
Dan kamu gemerlapan
Karena kami sumpek
Dan kamu mengunci pintu
Maka kami mencurigaimu
Karena kami terlantar di jalan
Dan kamu memiliki semua keteduhan
Karena kami kebanjiran
Dan kamu berpesta di kapal pesiar
Maka kami tidak menyukaimu
Karena kami di bungkam
Dan kamu nyerocos bicara
Karena kami di ancam
Dan kamu memaksakan kekuasaan
Maka kami bilang: TIDAK kepadamu
Karena kami tidak boleh memilih
Dan kamu bebas berencana
Karena kami semua bersandal
Dan kamu bebas memakai senapan
Karena kami harus sopan
Dan kamu punya penjara
Maka TIDAK dan TIDAK kepadamu
Karena kami arus kali
Dan kamu batu tanpa hati
Maka air akan mengikis batu

Bagaimana puisinya, luar biasa menarik bukan. Semoga artikel ini bisa menambah referensi kesastraan kalian, amiin. terima kasih sudah berkunjung di blog ini, sampai jumpa pada artikel berikutnya...

0 Response to "Tiga Puisi Karya W.S. Rendra Yang Menghantam Penguasa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel