Tiga Puisi Sufistik Karya Abdul Hadi WM

Tiga Puisi Sufistik Karya Abdul Hadi WM !!! Hallo sahabat puisi, apa kabar? Semoga sehat selalu, amiin... kamu pernah dengar istilah puisi Sufistik, hmm sama mimin juga baru dengar hehehe. Puisi sufistik merupakan puisi yang di kenalkan oleh para penyair Arab dan Persia, dimana puisi tersebut berisi ajaran-ajaran agama. Di Indonesia sendiri nama Abdul Hadi WM di kenal sebagai pelopor puisi Sufistik. Ayo kenal lebih jauh tentang beliau...

Nama lengkapnnya Abdul Hadi Wiji Muthahir, lahir di Sumenep, Madura pada 24 Juni 1946. Beliau merupakan soerang sastrawan, budayawan, dan ahli filsafat Indonesia.

Penyair yang bernama lahir Abdul Hadi Wijaya itu dibesarkan pada lingkungan yang sangat religius. Ayah beliau seorang muslim Tionghoa yang taat dan ibunya adalah putri keturunan Mangkunegaran (Keraton surakarta) yang bernama RA Sunartiyah.

Pendidikan dasar beliau diselesaikan di kota kelahirannya Sumenep, kemudian melanjutkan SMA di Surabaya, dan setelah itu beliau melanjutkan pendidikan di Fakultas Sastra, Universiats Gajah Mada, Yogyakarta hingga memperoleh gelar doktor.

Ketertarikan terhadap sastra di karenakan sejak kecil beliau telah di cekoki dengan bacaan-bacaan yang berat, seperti Plato, Sokrates, Imam Gazali, Rabindranath Tagore, dan Muhammad Iqbal.

Oleh para kritikus puisi Prof. A. Teeuw mengatakan bahwa puisi karya Abdul Hadi adalah puisi murni. Sedangkan menurut H.B. Jassin bahawa estetika sangat jelas pada puisi karya Abdul Hadi WM.

Baca Juga :

Karya karya puisi beliau antara lain: At Last meet Again, Arjuna in Meditation, Laut Belum Pasang, Meditasi, Cermin, Tergantung Pada Angin, Potret Panjang Soerang Pengunjung Pantai Sanur, Anak Laut Anak Angin, Madura: Luang Prabhang dan Pembawa Matahari dan lain lain.

Nah itulah sedikit tentang biografi beliau, untuk melengkapi artikel ini mimin lampirkan tiga puisi sufistik karya Abdul Hadi WM, selamat membaca..

Puisi Sufistik Karya Abdul Hadi WM

Malam Teluk

Malam di teluk
Menyuruk ke kelam
Bulan yang tinggal rusuk
Padam ke abuan

Ratusan gagak
Berteriak
Terbang menuju kota

Akankah nelayan kembali dari pelayaran panjang
Yang sia-sia? Dan kembali
Dengan wajah masai
Sebelum akhirnya badai
Mengatup pantai ?

Muara sempit
Dan kapal-kapal menyingkir pergi
Dan gonggong anjing
Mencari sisa sepi

Aku berjalan pada tepi
Pada batas
Mencari

Tak ada pelaut bisa datang
Dan nelayan bisa kembali
Aku terhempas di batu karang
Dan luka diri

Tuhan, Kita Begitu Dekat

Tuhan,
Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas
Aku panas dalam apimu

Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti kain dengan kapas
Aku kapas dalam kainmu

Tuhan,
Kita begitu dekatseperti angin dan arahnya
Kita begitu dekat

Dalam gelap
Kini aku nyala
Dalam lampu padammu

Lagu Dalam Hujan

Merdunya dan merdunya
Suara hujan
Gempita pohon-pohonan
Menerima serakan
Sayap-sayap burung

Merdunya dan merdunya
Seakan busukan akar pohonan
Menggema dan segar kembali
Seakan busukan daungladiola
Menyanyi dalam langsai-langsai pelangi biru
Memintas-mintas cuaca

Merdunya dan merdunya
Nasib yang bergerak
Jiwa yang bertempur
Gempita bumi
Menerima hembusan
Sayap-sayap kata

Ya, seakan merdunya suara hujan
Yang telah menjadi kebiasaan alam
Bergerak atau bergolak dan bangkit
Berubah dan berpindah dalam pendaran warna-warni
Melintas dan melewat dalam dingin dan panas

Merdunya dan merdunya
Merdu yang tiada bosan-bosannya
Melulung dan tiada kembali
Seakan-akan memijar api

Itulah tiga puisi sufistik karya Abdul Hadi WM yang mimin kumpulkan dari berbagai sumber. Semoga bisa menambah referensi puisi kamu. Terimakasih telah berkunjung di blog ini, sampai jumpa pada artikel berikutnya....

0 Response to "Tiga Puisi Sufistik Karya Abdul Hadi WM"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel